Friday, April 8, 2016

KETIKA ISTRI LEBIH MANDIRI

Ketika Istri Lebih Mandiri



Istri lebih mandiri bukan hal yang asing lagi untuk jaman sekarang. Terlihat dengan semakin banyak kaum perempuan yang menduduki posisi tertinggi di pemerintahan atau pun perusahaan. Hal ini didukung oleh kesempatan yang semakin luas bagi kaum perempuan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, setara dengan kaum pria. Ruang gerak kaum perempuan semakin tidak berbatas dan didukung oleh tingkat kecerdasan kaum perempuan yang saat ini mampu melebihi kaum pria.
Tidak jarang kita melihat seorang istri berangkat kerja sejak matahari belum terbit untuk mencari nafkah, sementara sang suami belum terbangun dari tidurnya atau masih bermalas-malasan di rumah bermain dengan anak-anak.  Seringkali kita temukan saat ada acara pertemuan sekolah anak, banyak kaum suami yang  menghadirinya. Hal tersebut bukanlah pemandangan yang asing lagi untuk saat ini.
Istri lebih mandiri itu tidak salah, tidak ada yang melarang. Tetapi kita harus tetap ingat makna dari sebuah pernikahan itu sendiri. Tidak ada kata menang atau kalah dalam sebuah pernikahan. Yang ada adalah saling mendukung, saling pengertian dan saling membutuhkan satu sama lain. Ada kecenderungan Istri lebih mandiri itu akan berdampak negatif untuk sang suami. Bisa jadi suami akan merasa tersisih atau merasa minder karena sang istri sudah dapat hidup mandiri dan tidak memerlukannya lagi. Tidak ada lagi sosok manja istri kepada suami akan sangat berbahaya dalam kehidupan rumah tangga. Istri lebih mandiri dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan cenderung tidak memiliki waktu sisa untuk suami bahkan untuk anaknya. Apalagi bila istri yang lebih mandiri bersikap meremehkan suami.
Namun jangan salah. Saat ini istri lebih mandiri pun cenderung menjadi dambaan suami. Mengapa? Karena suami tidak perlu terlalu repot memutar otak untuk menambah penghasilannya. Sudah ada istri yang akan mencukupi atau menutupi kekurangannya. Bahkan tidak jarang pula suami yang semakin seenaknya saja menggantungkan hidupnya pada istri yang lebih mandiri, dengan alasan: “ Gaji kamu sudah besar, tidak ada salahnya kalau saya meminta sedikit toh saya sudah merelakan kamu kerja selama ini?”
Seyogyanya kita kembalikan semua kepada kodratnya masing-masing. Suami adalah kepala keluarga, dia pemimpin keluarga yang harus dihormati oleh istri. Begitu pula istri yang sekaligus adalah Ibu dari anak-anak. Diskusikan segala sesuatunya terlebih dahulu diawal pernikahan agar dapat berjalan dengan baik dan menjadi keluarga yang sakinah mawardah warrahmah.
Sri Handayani Soekarno

No comments:

Post a Comment