Ketika Istri Lebih Mandiri

Istri lebih mandiri
bukan hal yang asing lagi untuk jaman sekarang. Terlihat dengan semakin banyak
kaum perempuan yang menduduki posisi tertinggi di pemerintahan atau pun
perusahaan. Hal ini didukung oleh kesempatan yang semakin luas bagi kaum
perempuan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, setara
dengan kaum pria. Ruang gerak kaum perempuan semakin tidak berbatas dan
didukung oleh tingkat kecerdasan kaum perempuan yang saat ini mampu melebihi
kaum pria.
Tidak
jarang kita melihat seorang istri berangkat kerja sejak matahari belum terbit
untuk mencari nafkah, sementara sang suami belum terbangun dari tidurnya atau
masih bermalas-malasan di rumah bermain dengan anak-anak. Seringkali kita temukan saat ada acara pertemuan
sekolah anak, banyak kaum suami yang menghadirinya. Hal tersebut bukanlah
pemandangan yang asing lagi untuk saat ini.
Istri lebih mandiri
itu tidak salah, tidak ada yang melarang. Tetapi kita harus tetap ingat makna
dari sebuah pernikahan itu sendiri. Tidak ada kata menang atau kalah dalam
sebuah pernikahan. Yang ada adalah saling mendukung, saling pengertian dan
saling membutuhkan satu sama lain. Ada kecenderungan Istri lebih mandiri itu
akan berdampak negatif untuk sang suami. Bisa jadi suami akan merasa tersisih
atau merasa minder karena sang istri sudah dapat hidup mandiri dan tidak
memerlukannya lagi. Tidak ada lagi sosok manja istri kepada suami akan sangat
berbahaya dalam kehidupan rumah tangga. Istri lebih mandiri dapat memenuhi
kebutuhannya sendiri dan cenderung tidak memiliki waktu sisa untuk suami bahkan
untuk anaknya. Apalagi bila istri yang lebih mandiri bersikap meremehkan suami.
Namun
jangan salah. Saat ini istri lebih
mandiri pun cenderung menjadi dambaan suami. Mengapa? Karena suami tidak perlu
terlalu repot memutar otak untuk menambah penghasilannya. Sudah ada istri yang
akan mencukupi atau menutupi kekurangannya. Bahkan tidak jarang pula suami yang
semakin seenaknya saja menggantungkan hidupnya pada istri yang lebih mandiri,
dengan alasan: “ Gaji kamu sudah besar, tidak ada salahnya kalau saya meminta
sedikit toh saya sudah merelakan kamu
kerja selama ini?”
Seyogyanya
kita kembalikan semua kepada kodratnya masing-masing. Suami adalah kepala
keluarga, dia pemimpin keluarga yang harus dihormati oleh istri. Begitu pula
istri yang sekaligus adalah Ibu dari anak-anak. Diskusikan segala sesuatunya
terlebih dahulu diawal pernikahan agar dapat berjalan dengan baik dan menjadi
keluarga yang sakinah mawardah warrahmah.
Sri Handayani Soekarno
No comments:
Post a Comment